smansakar web

 

 

 

Lomba Peringatan Bulan Bahasa

  Panitia Peringatan Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Karanganom Klaten akan menyelenggarakan kegiatan lomba-lomba...

Pembangunan Masjid Baiturrohman

Pembangunan Masjid Baiturrohman

DONASI BISA DI SALURKAN KE : BANK BRI UNIT KARANGANOM NO REK : 6738-01-008088-53-6 Atas Nama : Drs.Supriyanto,M.M    

Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

Selasa, 28 Mei 2013-Karanganom- SMA Negri 1 Karanganom mengucapkan selamat kepada siswa siswi yang telah dinyatakan lulus SNMPTN 2013. daftar...

Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal

Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal "Online"

JAKARTA, KOMPAS.com — Ujian Nasional (UN) 2013 akan segera digelar pada April untuk jenjang pendidikan menengah dan pada bulan Mei untuk jenjang...

Jadwal UN 2013

Jadwal UN 2013

Dengan dirilisnya Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional (POS UN) tahun ajaran 2012/2013, maka Jadwal Pelaksanaan UN 2013 telah bisa...

  • Lomba Peringatan Bulan Bahasa

    Saturday, 20 June 2015 02:34
  • Pembangunan Masjid Baiturrohman

    Pembangunan Masjid Baiturrohman

    Monday, 23 June 2014 01:43
  • Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

    Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

    Tuesday, 28 May 2013 02:18
  • Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal

    Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal "Online"

    Saturday, 30 March 2013 00:57
  • Jadwal UN 2013

    Jadwal UN 2013

    Wednesday, 20 February 2013 01:23
You are here: Home kisah hikmah Kehilangan Kesempatan Menjadi Pejabat

welcome smansakar

Kehilangan Kesempatan Menjadi Pejabat

Pada masa Qianlong, di kota Nanchang ada seorang pria marga Lim ayahnya adalah seorang pejabat di pemerintah, pada suatu ketika ayahnya dipindah tugaskan ke ibu kota, dia mengikuti ayahnya pindah ke ibu kota.

Pada suatu hari ketika dia melewati sebuah jalan di dekat sebuah kuil, dia melihat ada seorang pemuda penjual lukisan yang sedang menghitung uang dagangannya, kebetulan sebuah koin terjatuh dan tergulir ke tengah jalan, pria marga Lim ini secara diam-diam memijak koin yang bergulir kearahnya, ketika pemuda penjual lukisan mencari uang koinnya yang tergulir tidak dapat menemukannya akhirnya pemuda tersebut membalikkan badan dan berjalan pergi, pria marga Lim ini melihat kepergian pemuda tersebut lalu membungkukkan badannya mengambil uang koin tersebut menyimpan ke dalam kantong bajunya.

Kejadian tersebut dilihat oleh seorang kakek yang kebetulan duduk di dalam kuil, setelah melihat kejadian tersebut, kakek tersebut berjalan ke arah pemuda marga Lim dan bertanya kepadanya nama serta tempat tinggalnya, lalu berlalu dari tempat tersebut.

Setelah beberapa bulan kemudian pria marga Lim ini mengikuti ujian seleksi menjadi pejabat di pemerintahan, akhirnya dia lulus ujian dan ditugaskan menjadi seorang pembantu penjabat di kota Jiangsu. Setelah mempersiapkan segalanya dia berangkat ke Jiangsu untuk melapor kepada atasannya, tetapi setelah sampai di Jiangsu, setelah puluhan kali datang ke kantor atasannya, tidak dapat menjumpai atasannya.

Beberapa hari kemudian, atasannya dengan perantara pengawalnya menyampaikan pesan kepada pria marga Lim ini untuk tidak usah melapor kepadanya lagi, karena namanya telah dihapus menjadi pejabat.  Dia sangat terkejut bertanya kepada pengawal yang menyampaikan pesan tersebut apa alasan namanya dihapus?  Pengawal tersebut menjawab “tamak”.

Pria marga Lim ini berpikir, saya belum menjadi pejabat mana mungkin tamak? Pasti ada salah paham. Dia bersikeras akan bertemu dengan atasannya meminta penjelasan.

Akhirnya atasannya bersedia menemuinya dan berkata kepadanya, “Apakah engkau masih ingat suatu hari ketika engkau melewati sebuah jalan dekat sebuah kuil? Apa yang Anda lakukan terhadap pemuda penjual lukisan? Ketika itu engkau hanya seorang pelajar, tetapi engkau demikian tamak terhadap uang; jika sekarang saya membiarkan engkau menjadi pejabat, engkau pasti akan menjadi seorang koruptor yang bakal akan membuat rakyat sengsara.  Maka saya memutuskan sebelum engkau menjadi pejabat mencopot jabatanmu!

Pria marga Lim ini segera sadar, kakek di dalam kuil yang menanyakan namanya adalah atasannya sekarang, dia merasa sangat malu, gara-gara uang satu koin dia menjadi kehilangan kesempatan menjadi pejabat. (Erabaru/hui)