smansakar web

 

 

 

Lomba Peringatan Bulan Bahasa

  Panitia Peringatan Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Karanganom Klaten akan menyelenggarakan kegiatan lomba-lomba...

Pembangunan Masjid Baiturrohman

Pembangunan Masjid Baiturrohman

DONASI BISA DI SALURKAN KE : BANK BRI UNIT KARANGANOM NO REK : 6738-01-008088-53-6 Atas Nama : Drs.Supriyanto,M.M    

Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

Selasa, 28 Mei 2013-Karanganom- SMA Negri 1 Karanganom mengucapkan selamat kepada siswa siswi yang telah dinyatakan lulus SNMPTN 2013. daftar...

Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal

Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal "Online"

JAKARTA, KOMPAS.com — Ujian Nasional (UN) 2013 akan segera digelar pada April untuk jenjang pendidikan menengah dan pada bulan Mei untuk jenjang...

Jadwal UN 2013

Jadwal UN 2013

Dengan dirilisnya Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional (POS UN) tahun ajaran 2012/2013, maka Jadwal Pelaksanaan UN 2013 telah bisa...

  • Lomba Peringatan Bulan Bahasa

    Saturday, 20 June 2015 02:34
  • Pembangunan Masjid Baiturrohman

    Pembangunan Masjid Baiturrohman

    Monday, 23 June 2014 01:43
  • Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

    Hasil Seleksi SNMPTN SMA Negeri 1 Karanganom

    Tuesday, 28 May 2013 02:18
  • Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal

    Perbanyak Latihan untuk UN dengan Soal "Online"

    Saturday, 30 March 2013 00:57
  • Jadwal UN 2013

    Jadwal UN 2013

    Wednesday, 20 February 2013 01:23
You are here: Home kisah hikmah Desa Tanpa Suara

welcome smansakar

Desa Tanpa Suara

Ketika kita mendengar perkataan desa tanpa suara, didalam benak kita akan membayangkan sebuah desa yang sepi dan tenteram, tetapi ketika Susan sampai di desa tersebut, dia mendengar berbagai suara keributan, seperti pandai besi yang sedang memukul besi.

Di desa itu suara tukang perabot yang menggergaji papan juga terdengar, suara lonceng sado, suara dengkur orang tua, anak-anak yang membaca dengan suara keras, tukang sayur yang meneriaki dagangannya, suara tersebut sangat membisingkan telinga.    

Keanehan dari seluruh penduduk adalah kelihatannya sangat tenang, mereka seolah-olah tidak mendengar semua suara tersebut. “Apakah kalian semua tuli,?” Susan bertanya kepada seorang pemuda.

“Jika kami memang tuli, mana mungkin bisa mendengar perkataanmu?” jawab pemuda itu. “Kami semua memiliki pendengaran yang khusus, semua orang mengatakan ini adalah pendengaran khusus yang dimiliki terpidana hukuman mati,” kata pemuda itu.  

“Pendengaran khusus yang dimiliki terpidana hukuman mati? Apa artinya?,” Susan sangat penasaran mengejar pemuda tersebut bercerita terus, pemuda ini kemudian menceritakan sebuah cerita yang aneh. Pemuda itu mengatakan pada awalnya 20 orang yang tinggal didesa tanpa suara, mereka adalah terpidana hukuman mati beserta keluarga mereka. Cerita ini terjadi sudah lama sekali.

Dahulu ada seorang raja yang sangat percaya kepada Buddha, selalu mengundang biksu berceramah. Pada suatu hari setelah selesai berceramah biksu tiba-tiba meminta raja memilih 20 orang terpidana hukuman mati kehadapannya, dia membagikan kepada mereka masing-masing segelas air, meminta mereka meletakkan gelas tersebut diatas kepala mereka, berjalan mengelilingi taman dan kembali kehadapannya.

Biksu berkata kepada mereka, “Jika setelah kalian mengelilingi taman dapat pulang dengan air yang tidak tumpah dari gelas ini, saya akan meminta raja menghapus hukuman mati kalian.”

Demi membuat suasana tidak begitu tegang, biksu memanggil kelompok orchestra memainkan musik untuk mereka. Setelah beberapa waktu, terpidana mati ini satu persatu sampai ke tempat semula,  air yang terdapat digelas diatas kepala mereka setetespun tidak meluap keluar. Biksu bertanya kepada mereka, “Apakah kalian tadi mendengar suara musik?." Semua terpidana mati menjawab, “Tidak mendengar.”

Biksu lalu berkata kepada raja, “Terpidana mati  ini memiliki kemauan dan tekad yang besar demi mempertahankan hidup mereka. Seluruh perhatian mereka hanya terkonsentrasi kepada segelas air dikepala mereka, oleh sebab itu mereka tidak mendengar suara musik disebelah mereka.”

“Paduka, jika kelak paduka dapat memiliki kemauan yang besar dan hati yang teguh ini terhadapan ajaran Budha alangkah baiknya!,” kata biksu itu. Raja setelah mendengar perkataan biksu segera tersadar, dia lalu melepaskan semua terpidana mati ini, dia juga bertekad akan belajar dengan baik semua ajaran Budha.

Kedua puluh orang terpidana ini datang ke desa ini, memulai hidup baru mereka. Mereka sekarang juga sudah bertobat dan percaya kepada Budha, dan menyadari perbuatan mereka dahulu yang membunuh dan merampas kekayaan orang lain ada perbuat salah besar.

Oleh sebab itu mereka selalu mengajarkan kepada keturunan mereka “kehendak yang kuat dapat merubah indera, pikiran dan kehidupan seseorang.  Kalian sendiri harus mempunyai tekad yang kuat, jadilah tuan untuk diri sendiri, jangan membiarkan kehidupan duniawi mengotori hidup Anda.”

Setelah turun temurun, penduduk desa ini selalu mempunyai ketekadan berbuat baik  dan memiliki pendengaran yang khusus menampik semua suara kebisingan dari dunia ini, inilah asal usul “Desa Tanpa Suara” . Oleh sebab itu didesa tanpa suara ini Susan mengerti apa artinya, “Menjadi tuan atas diri sendiri.” (Mingxin/hui/asr)